Translate

Rabu, 15 Januari 2020

project novel 1


Magenta yang Terpaksa

“Apa yang kita lihat belum tentu seperti apa yang kita lihat. Apa yang kita pikirkan belum pasti seperti apa yang kita pikirkan. Apa yang tersimpan di benak bisa jadi tak sesuai dengan kenyataan.”

Kasihan Magenta. Gadis polos manis nan unik. Setiap hari dipaksa mandiri oleh kedua orangtua-nya. Padahal ia masih sangat kecil. Seringkali ia diam-diam menangis di sudut kamar.  Terlihat sangat memelas. Sebenarnya ia ingin sekali  bercerita, curhat, bisa dekat dengan ayah mamahnya. Seperti teman-temannya yang dimanja oleh ibu bapaknya. Akan tetapi Magenta kecil tak terbiasa. Sejak kecil ia tak pernah dekat dengan orangtuanya, karena ayahnya yang pemarah dan mamahnya yang terlampau pendiam. Sebab itu lah Magenta yang sebenarnya cerewet tumbuh menjadi sosok penyendiri yang pendiam seribu bahasa. Ia menjadi seorang introvert dengan segudang rahasia.
Bersyukur sekali ia punya seorang kakak periang. Namanya Berlian. Berlian lah yang selalu menemani kesunyian Magenta. Berlian yang selalu membela Magenta saat diganggu teman-temannya yang nakal. Berlian sebagai tempat bercerita bagi Magenta. Akan tetapi akibat sosialisasi yang tidak sempurna, seringkali Magenta malah berbuat seenaknya sendiri dengan kakaknya. Menjahili, menganggu, dan melakukan perbuatan-perbuatan nakal lainnya yang sungguh membuat Berlian sangat sebal. Tak heran kedua kakak beradik itu sering bertengkar, meskipun hanya karena masalah sepele.
Magenta kecil yang sunyi, sepi, redup, tak memiliki teman. Walau masih kecil bisa dibilang ia berpikir lebih dewasa dibandingkan anak seusianya. Tentu saja, itu karena ia terpaksa. Mau tidak mau dia harus berpikir lebih dewasa, harus mandiri karena tuntutan. Setiap hari berjalan kaki sendirian menyusuri jalan setapak menuju sekolah yang jaraknya lumayan jauh. Itu tak lagi menjadi masalah baginya, karena ia sudah terbiasa. Terbiasa sendiri, sampai terlalu nyaman untuk sendiri.
            Terlihat memelas memang di mata orang-orang. Tapi selama ini mereka salah besar. Magenta yang terlihat rapuh serapuh bunga dandelion, sesungguhnya ia kuat sekuat pohon oak yang tetap berdiri kukuh meski angin besar menerpa. Tak disangka-sangka, di balik kesendiriannya ia tak sendiri. Anggapan orang-orang salah selama ini. Ia tak pernah sendiri. Ia selalu bersama zat yang Maha Agung yang selalu dekat dengannya, bahkan lebih dekat daripada uri nadinya sendiri. Saat si Magenta kecil berjalan menyusuri sekolah dasar kecilnya, ia selalu dikawal oleh ribuan malaikat. Setiap ia berjalan, ayam-ayam jantan yang melihatnya tiba-tiba berkokok dengan kerasnya. Menandakan melihat makhluk Allah yang bahkan kedua sayapnya menutupi langit semesta ini. Magenta yang pendiam, sesungguhnya ia sangat cerewet dan banyak bicaranya. Dia banyak bicara berdzikir pada Tuhannya Yang Maha Kuasa. Di setiap langkahnya ia berdzikir. Sampai ribuan kali. Malaikat-malaikat yang sangat suka mendengarkan suara dzikir berdatangan mengelilingi Magenta. Subhanallah. Hal itu selalu dilakukannya secara konsisten, tiap hari. Ia punya target sendiri dzikir dan doa-doa yang harus selesai dibaca setiap harinya.
Magenta oh Magenta. Betapa dewasanya engkau nak. Anak kecil yang terlalu sering dipaksa, tapi beruntung kamu tumbuh menjadi anak yang dewasa. Tidak rugi sejak belia engkau dipaksa ikut pengajian setiap hari oleh ayah mamah mu. Ayah mamah yang mungkin terlihat jahat, yang sejatinya adalah raja dan ratu mu Magenta. Raja dan ratu yang telah menjadi perantara hidayah Allah untukmu. Apa ada yang lebih penting daripada itu? 




 Putih Abu Kelam

Friendship is beautiful (more than anything). Make a lot of friends is all we need (is all we need, all we need).”

          “Cuyy, kamu lagi ndengerin apa Hime?” Sapa seorang teman.
          “Bukan apa-apa.”
          “Keliatan serius amat. Jadi kepo deh! Dengerin apaan sih?” Tambahnya.
          “Lagu friendship nya  Swittins,” jawabku.
          “Oalahhh…” Ucap cewe berkacamata itu. Namanya Mutiara, namun teman-teman sekelas memanggilnya Mamat. Itu karena dirinya yang tomboy. O iya dia ketua kelas kami, kelas 10 IPS 1.
           Hari ini adalah hari ke-33 aku mengenakan seragam putih abu. Cukup asyik menjadi anak SMA. Yah, setidaknya kami sudah dianggap cukup besar. Kurasa pendapat kami lebih dihargai dan tidak disepelekan seperti di kala SD dan SMP. Sangat menyebalkan! Yang sedikit menyebalkan waktu di SMA adalah maraknya cinta monyet bertebaran. Salah satu contohnya teman sebangkuku sendiri, Hasna, dan juga aku sendiri hehehe.
          Sebenarnya sih aku biasa aja mengenai hal ini, masalahnya Hasna temanku ini sangat alay bin lebay! Aku sebagai sahabatnya harus mendengarkan ocehannya, curhatannya tentang si “Dia” setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik. Yang sangat memalukan juga ialah sikap Hasna yang begitu histeris saat bertemu cowo yang disukainya. Gimana aku gak ikutan malu? Waktu cowo yang ditaksirnya cuman lewat aja Hasna langsung teriak-teriak gak jelas seperti K-Popers yang bertemu biasnya, sampai cowo yang disukai Hasna kebingungan. Aku dan teman-teman yang lain cuman bisa geleng-geleng kepala sambil ngakak liat tingkahnya itu. Ini sisi buruknya Hasna, terlebih dia sebenarnya adalah muslimah yang taat agama. Hasna merupakan lulusan sekolah islam dan termasuk hafizah Al-Quran. Selain itu, ia sangat asyik, baik, perhatian, rempong, cerewet, pandai bergaul, dan lucu. Anak-anak kelas sering ketawa dibuatnya.
          “Oioi Hime, ngantin yuk!? Aku laper banget nih, aku belom sarapan soalnya, ini kan juga baru kosong jam nya,” ajak Hasna menggugah lamunanku. Aku yang gabut pun mengiyakannya. Seperti biasa, kami hanya membeli satu biskuit malkist dan dua aqua gelasan. Bukan uang saku kita yang sedikit, tapi memang kita yang terlampau hemat.
          “Enak ya kek gini, sepi. Jadi ga perlu susah payah ngantri buat jajan,” ucapku.
          “Iyupz, enak kan… Siapa dulu yang ngajak? Wkwkw.”
          “Iya dehh!” Kami berjalan balik menuju kelas. Ketika di persimpangan, yang benar saja ada Mas Ardho dan Mas Besar juga sedang colut.
          “Himee, ya ampun Hime! Ada Mas Ardho, sama Mas Besar jugak!”
          “Iya iya, aku ngerti. Hasna, inget ya kalem! Jaga sikap,” perintahku. Ketika kami berpapasan, aku dan Hasna menyapa kedua kakak kelas kami itu. Mereka pun membalas senyum.
          “Hasnaaa, aku seneng bangett sumpah!  Eh, tapi kok isa kebetulan banget yak. Kita berdua sama mereka berdua. Bayangin di koridor sekolah cuman ada kita berempat, berpapasan, dan saling bersapaan!” Kataku meleleh.
          “Uwuwuu, sosweet!!!” Teriakku dan Hasna bebarengan.
          Sama seperti diriku dan Hasna, Mas Ardho dan Mas Besar merupakan sahabat dekat dan tinggal satu kelas, mereka kakak kelas kami. Mereka 11 IPS 1. Mas Ardho yang berwajah jelek, cerewet, koplak, heboh, konyol, dan sangat lucu membuatnya dikenal satu sekolah. Walau wataknya yang amat humoris, ia memiliki otak yang lumayan juga. Banyak yang tak mengira ternyata ia sangat pandai, pintar bermain gitar pula. Meskipun suara merdu dawainya tak sejajar dengan suaranya yang cempreng seperti bebek. Wkwkwk. Tapi jangan tanya, walau begitu Mas Ardho ini banyak fans nya, banyak cewe yang jatuh hati padanya karena ia yang sangat humoris dan keren, apalagi saat bermain gitar. Hal itu pula yang membuat temanku Hasna nge fans dengan kakak kelas ini. Harus diakui memang sifat humoris itu punya daya tarik tersendiri.
          Mas Besar. Ini benar-benar asli namanya, Besar. Sama seperti ukuran badannya yang Besar. Kadang ia diejek karena namanya yang lucu dan kebetulan juga sesuai dengan tubuhnya yang gendut. Yah, tapi enggak gendut gendut amat, dan dia pendek untuk ukuran anak laki-laki. Hanya saja dia terbilang pintar, berkulit sangat putih, dan wajahnya bisa dibilang tampan. Yang paling menarik darinya adalah tatapan matanya yang sungguh sangat tajam dilengkapi dengan alisnya yang sangat tebal. Waw! Kadang ketika sedang ditatapnya tubuh ini tiba-tiba merinding. Oh iya Mas Besar ini salah satu anggota OSIS dan sangat tegas, juga galak. Tentu saja dia termasuk hitz di sekolah. Yang membuatku simpati dengannya karena wajahnya yang sangat mirip dengan salah satu member boyband Korea EXO! Member tertua EXO tapi berwajah paling imut, Xiumin. Ini bukan hanya sekedar kebetulan belaka, tapi ini nyata realita! Mas Besar sungguh mirip dengan Xiumin EXO, dan teman-temanku yang K-POPers pun berkata demikian. Aku yang EXO-L dan paling suka dengan Xiumin tentu saja langsung ikut suka dengan Mas Besar, hehehe.
          Sesampai di dalam kelas seisi kelas menatap kami aneh. Seperti bertanya-tanya ada apa dengan kami yang senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Kami memang sedang gila waktu itu, gila dimabuk cinta! Aku overdosis vitamin B dan Hasna overdosis vitamin A! Hahaha, ngekek!
         
11-12-2013
Hai. Namaku Berlian Melburnian. Nama Berlian berasal dari kata berlian yang berarti harta yang amat berharga, sedangkan Melburnian diambil dari nama penduduk di kota kelahiranku, Melbourne. Salah satu kota terpadat di Negara Kanguru, Australia. Lucunya, aku malah terkenal dengan sebutan Hime di sekolah baruku ini. Hanya karena nama akun facebook ku Himeberlian Melburnian. Teman-temanku mengira namaku Hime. Yah, kurang lebih seperti itulah ceritanya. Haha. Terdengar sangat konyol bukan? Tak apa. Aku hanya berharap semoga di masa putih abuku  ini menjadi masa yang tidak kelam, namun sangat indah dan mengesankan.  Semoga juga di masa putih abu ku ini lah aku menemukan cinta pertamaku. Aamiin.
Berlian Melburnian

***

“Emm, kak aku boleh enggak ikut organisasi kebahasaan?”
“Jurnalistik? Boleh, lagian juga gak ada seleksinya-“
“Hah, seriusan kak?”
“Iya, seleksinya itu cuma kalo mau jadi pengurus inti. Aslinya si itu cuma formalitas doang sih ya. biar keliatan organisasinya keren gitu ada pengurusnya. Padahal sih semuanya yang ngerjain ketua dan sekretaris. Yang lainnya cuma nge-support ajah. Bedanya nih antara pengurus inti sama anggota, entar di belakang majalah yang dibikin anak-anak kebahasaan itu bakalan ada foto-foto pribadi si pengurus inti. Kek ketua, bendahara, sekretaris, editor, ilustrator, dll. Yahh, biar terkenal gitu, hitz, kan nanti semua murid se-SMA diwajibkan buat beli majalahnya.”
“Hmmm. Unfaedah ya? Eh engga denggg! Canda, mweheheh…”
Akhirnya Berlian memutuskan buat bergabung dengan organisasi kebahasaan di SMA. Bukan karena pengen terkenal atau bagimana, tapi karena memang dari dulu Berlian suka banget sama dunia jurnalistik! Terlebih nulis, selain itu karena Berlian bingung mau ikut organisasi apa… Kemarin ia gak lolos jadi pengurus OSIS. Berlian tentu sangat kesal dan kecewa. Tapi sudahlah, mungkin memang bukan yang terbaik untuknya.
Langsung saja Berlian mengambil secarik kertas formulir pendaftaran anggota baru organisasi kebahasaan yang tertempel di mading perpustakaan. Sambil duduk di atas kursi perpustakaan, ia lalu mengisinya. Cukup banyak juga ternyata formulir yang harus diisi, sampai membuat tangan Berlian keriting.
Sampai kemudian Berlian berhenti menulis, ia tertegun dengan salah satu syarat pendaftaran yang menurutnya sedikit aneh. Seperti teka-teki, tetapi rumit. Serumit hidupnya Berlian. Dengan jelas di formulir itu tertulis bahwa Berlian harus meminta persetujuan dan tanda tangan dari seorang senior paling tampan di sekolah.
Hmmm. Berlian menghela napas. Jangan-jangan ia sedang dikerjai. Gumamnya. Tapi oleh siapa? Pikirnya lagi. Masa iya oleh kakaknya tadi, Mas Hoshi. Ah, tentu saja tidak mungkin. Untuk apa dia melakukan itu, seperti kurang kerjaan saja. Atau mungkin teman sekelasnya? Siapa, Hasna? Mamat? Mufid? Danu? Ah, sumpah hal itu membuat Berlian sangat geram.   
Teet Teet Teet
Bel pulang sekolah memecahkan sejuta pertanyaan Berlian. Otaknya serasa akan meledak seperti bom atom. Ia masih sangat kepo siapakah pelakunya.













Mozaik Astronomi

“Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini! Semuanya sangat mungkin walaupun tak bisa dipikir secara logika!”

          Ketika aku kecil seringkali aku bertanya-tanya ada apa di atas sana. Tiap malam aku sering keluar rumah dan menyaksikan pemandangan alam di atas langit. Aku setia menunggu datanya meteor yang tak bisa selalu dilihat dengan mata telanjang. Aku jatuh cinta dengan kecantikan nuansa malam, bintang-bintang dan bulan nan sangat apik. Kala itu aku paling suka dengan bintang kejora. Kata mamaku bintang kejora adalah bintang-bintang yang terlihat besar dan paling cemerlang cahyanya dibandingan bintang-bintang yang lain. Bintang-bintang yang lain, yang kurang mencolok itu namanya bintang kecil. Sama seperti di lirik lagu anak-anak yang judulnya Bintang Kecil. Kalau kata ayahku ketika bulan hanya setengah itu berarti bulannya habis dimakan buto atau raksasa. Lainnya lagi, aku dan kakakku selalu memuji Tuhan dan berdoa meminta sesuatu ketika melihat bintang jatuh,. Katanya orang-orang, dengan begitu doa kami apa saja akan terkabul! Aku dan kakakku masih berumur belia kala itu, kami yang masih polos pun tinggal percaya saja. Masa kecil itu memang banyak kenangan yang tak bisa dilupakan. Banyak hal lucu dan konyol yang bisa saja terjadi.  
          Hal yang paling membuat mata hazelku terbelalak adalah pada saat aku dan kawan-kawanku menemukan awan-awan di siang hari berbentuk gumpalan-gumpalan sangat indah mirip seperti sebuah istana atau kastil kerajaan. Sungguh menakjubkan bukan main! Sejak itu kami percaya bahwa dunia kehidupan di atas sana memang ada, mungkin saja ada manusia bersayap yang tinggal di balik awan berbentuk istana itu. Seorang peri atau bidadari seperti di film-film.
          Kadang aku sedih ketika di malam hari hujan. Sehingga aku harus libur menikmati suasana malam. Biasanya aku akan langsung tidur daripada dihantui petir-petir yang menggelegar. 
          Aku memang suka dengan pemandangan langit, tapi sebenarnya diriku tak tau apa-apa tentang mereka. Ilmuku mengenai dunia astronomi masih sangatlah kurang. Sampai pada akhirnya aku bertemu seseorang yang mengenalkanku dan mengajarkanku banyak hal tentang mereka. Lyra namanya. Temanku sekelas di kelas ekstrakulikuler fotografi. Dia adalah seorang astronomer sejati yang sangat mencintai astronomi sejak kecil. Ia bertekad menjadi seorang astronot atau astronom di NASA atau LAPAN. Lyra seorang perempuan yang introvert, berpikiran ke depan, dan sangat ambisius. Dia banyak mempercayai hal-hal yang terlihat tidak realistis bagi masyarakat pada umumnya. Ia ingin sekali suatu hari bisa menginjakkan kakinya di bulan. Dia sangat percaya bahwa dia pasti bisa mewujudkan mimpi tingginya itu, meskipun terlihat impossible. Aku pun percaya saja akan mimpi Lyra, karena aku tahu bahwasannya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama Allah mengizinkan. Bersama Allah semuanya menjadi sangat mungkin.

***

Aku dan Lyra bergabung dengan grup Astronomi Indonesia di facebook. Dari situ selain mendapat banyak ilmu pengetahuan mengenai ilmu perbintangan kami juga mendapat banyak relasi dari berbagai daerah di Indonesia. Kami mengenal orang-orang hebat di luar sana yang sudah ahli di bidang astronomi. Bahkan kita sampai tahu dosen astronomi ITB. Lyra yang bercita-cita kuliah astronomi di ITB senangnya bukan main. Memang jurusan astronomi di Indonesia satu-satunya hanya ada di ITB, dan di situlah jurusan astronomi paling bagus se Asia Tenggara.
Jujur saja semenjak aku join beberapa grup astronomi pikiranku menjadi lebih terbuka dan wawasan ilmuku semakin luas. Hanya satu yang kurang. Aku belum punya teleskop. Begitu  juga Lyra. Kami berdua belum punya uang yang cukup untuk membeli sebuah teleskop yang harganya sangat miring. Jadi, untuk sementara waktu kami membuat sendiri teleskop buatan kami. Kami cukup membeli lensa dan bahan yang lain lalu merakitnya sendiri. Lumayan dengan teleskop buatan kami, kami sudah bisa melihat kawah bulan dengan jelas.
Tik tik tik
Gerimis malam itu, aku disibukkan dengan tugas individu sekolah membuat suatu laporan. Cuaca yang sangat dingin membuatku berpikir untuk menyeduh kopi susu. Jam sebelas malam aku ditemani laptop dan secangkir kopi hangat. Rasa kantukku pun mulai menghilang. “Hmmm, nikmat sekali rasanya!” ucapku. Aku memang seorang coffee lover. Tiap minggu aku selalu minum kopi empat sampai lima kali. Terkadang lebih. Sebenarnya aku sudah tahu bahayanya kopi apabila dikonsumsi secara berlebihan, apalagi dikonsumsi oleh orang seusiaku. Mau gimana lagi, habisnya aku sudah kecanduan dengan kopi ini. Lagipula di samping bahayanya kopi, kopi juga punya segudang manfaat yang sangat bagus untuk tubuhku ini, hehe.
Line!
Hapeku bergetar. Ada tiga pesan line masuk berurutan.
From Andromeda.
Berliii! Maaf ya baru balas jam segini, aku tadi setelah latihan basket, pergi ke rumahnya Prominensa dulu soalnya. Maafin bgt yaa.
From Andromeda
Eh, Berlian kamu lagi ngapain? Belom tidur kan? Wkwk. Mau enggak keluar sebentar?
From Andromeda
Di sini langitnya cerahh banget. Rasi bintang favoritmu sekarang tepat diatas kepala lho. Bagus banget dah pokoknya!
Hmm ternyata Andromeda. Sudah sedari tadi aku menunggu balasannya. Setelah aku read line dari Andromeda, aku berjalan keluar ke depan rumah. Aku duduk termenung di kursi depan rumah. Hujan rintik-rintik masih terus berjatuhan. Bahkan sampai setengah jam ku menanti, gerimis ini tidak berhenti jua. Galau sekali diriku malam itu. Aku ingin, tapi ku tak isa.

To Andromeda
Iyaa Androm. Gakpapa kok… Semangat ya latihan basketnya biar besok menang lombanya, sama Promi jugaa. Kirimin salamku. Oiya, btw emang kamu gk capek yah? Hmm, dasar cowo! Udah tidur sana! :v
Di sini ujan, aku gabisa liat rasi bintang orion. Sedihh, tapi mau gimana lagi :(((
Jadi malam itu aku tidak meneruskan laporanku, aku terus duduk di depan rumah sampai larut malam demi menunggu hujan reda dan bisa stargazing orion. Dinginnya malam itu justru membuat diri ini semakin bersemangat. Sampai dua cangkir kopi kuhabiskan dalam satu malam. Ah, bodo amat lah. Sambil mendengarkan musik di earphone membuat malamku lebih bermakna.
          Du du du, aku bersenandung ria mengikuti irama melodi yang kudengarkan. “Kita memandang langit yang sama. Jauh di mata, namun dekat di hati. Du du du…..” Suara merduku menghiasi malam yang sunyi kala itu.
          BRUKK!
Uhh, aduh! Sakit bangettttt! Kepalaku terbentur kursi. Aku tak sadarkan diri sudah ketiduran tiga jam. Menyebalkan! Untung kepalaku tak sampai berdarah. Untungnya lagi tepat sekali aku terbangun di saat hujan sudah usai. Langit sangat cerah, jelas sekali pemandangan langit.  
          Kuambil rakitan teleskop sederhanaku. Aku mulai melihat-lihat bintang-bintang di angkasa. Kedua bola mata hazelku seketika membuka lebar tak bisa berkedip sekalipun. Mata hazelku berkaca-kaca. Aku mendapat satu meteor. Yeayyy! Akhirnya aku berhasil menyaksikan meteor jatuh malam ini. Keren sekali. Beberapa detik kemudian aku mendapatkannya lagi! Wow, ternyata jam segini asik sekali untuk stargazing.
          Lalu, aku mencari rasi bintang kesukaanku. ORION. Iyash! Benar kata Andromeda, malam ini orion sedang berada tepat di atas kepalaku! So beautifuuuull! Aku memandanginya terus sampe kepalaku mau patah saja rasanya, karena untuk melihatnya aku harus mendangak terus-terusan. Uhh, pegel juga nih leher. Gumamku.
          Aku mencoba menggabung-gabungkan rasi bintang sesuai peta rasi bintang dengan bantuan aplikasi Stellarium di hape. Lumayan susah juga ternyata. Tak segampang yang aku bayangkan selama ini.
Emm, itu tujuh bintang kalo aku sambung-sambung jadi bentuk layang-layang. Itu namanya rasi apa ya? Aku kepo bet, kemana-mana pasti aku ketemu terus sama layangan itu. Coba cari ah, pake aplikasi Star Chart aja coba. Keknya lebih gampang deh daripada Stellarium. Cukup lama aku mengotak-atik Star Chart, akhirnya ketahuan juga layang-layang itu adalah rasi Ursa Minor. Artinya beruang kecil. Cukup geli juga aku, berbentuk beruang dari mana? Orang jelas-jelas bentuknya layangan, wkwk.
Saking keponya aku, aku coba searching di Google. Ursa Minor adalah suatu rasi bintang di langit utara, yang namanya berarti Beruang Kecil dalam bahasa Latin. Rasi ini adalah salah satu dari 88 rasi bintang modern, dan juga satu dari 48 yang didaftar oleh Ptolemy. Rasi bintang ini dikenal pula sebagai rasi biduk kecil, bintang biduk kecil, atau bintang tujuh kecil, dan mempunyai 'ekor' bernama Polaris sebagai bintang kutub utara. Di dunia maritim, terutama oleh nelayan, rasi ini dijadikan petunjuk untuk memperkirakan titik utara langit, dengan menarik garis lurus dari dua bintang (alfa dan beta) ke arah horison.
Selanjutnya aku mencari bintang paling terang apabila di lihat dari bumi di malam hari. Yap, aku mencari bintang Sirius. Sirius adalah bintang paling terang di langit malam, dengan magnitudo tampak −1.47. Bintang ini terletak di rasi Canis Major dan merupakan sistem bintang ganda dengan komponen primer bintang deret utama kelas A dan komponen sekunder sebuah katai putih. 
19-05-2014
Yah, berkat malam itu rasa cintaku pada dunia astronomi semakin mendalam. Hatiku serasa lebih ayem dan aku merasa lebih dekat dengan Tuhan. Berkat malam itu aku sadar akan kekuasaan Allah SWT. Sirius, canopus, capella, vega, arcturus, dan lain lain, mereka adalah bukti nyata di jagad raya akan kebesaran Allah SWT yang tak tertandingi.  Berkat malam itu, imanku bertambah dan menguat. Alhamdulillaaah…
***
Dibalik Layar

“Jangan pernah berharap pada manusia. Berharaplah hanya kepada Allah semata. Maka kamu takkan pernah merasakan pedihnya kecewa.”

          “Sssstttt! DIAM! Bullshit lu!” Teriak lelaki muda berkaos Nevada hitam polos. “Woiii! Lu kalo gak bisa diem gua tonjok entar mulut lu!” Tambahnya geram. Lelaki berkerah merah itu pun bungkam.  Air keringat kedua lelaki itu bercucuran membanjiri liang lahad. Rasa takut menghantui mereka sepanjang malam.
          Tooot tooot toot.
          Suara sirine mobil polisi mulai berdatangan membuat kesunyian malam gulita di Pelabuhan Marina itu berubah gaduh. Membuat nelayan-nelayan malam resah, ada apa gerangan? Tak biasanya terjadi hal demikian di Pelabuahan Marina di tengah malam yang selalu sepi, mengalahkan sepinya hutan rimba di Afrika.
          “Saya Kevin, siap, pak!” Teriak salah seorang polisi bea cukai termuda.
          “Kevin kamu ikut dengan saya yak. Yang lainnya menyebar menyesuaikan. Kita harus menemukannya malam ini juga, tidak bisa tidak!” Seru Pak Burhan, selaku pimpinan.
          “Fatah, jangan lupa selalu bawa HT mu!” Tambah Pak Burhan, Fatah yang pelupa segera memasukkan HT nya ke dalam kantong bajunya.
          “SIAP, PAK!”
          Pak Burhan dan junior Kevin pergi berlari ke arah barat. Membawa pistol terbaru di genggaman kedua tangan, kedua polisi yang cekatan itu merumuskan sebuah taktik. Mereka harus segera menangkap tawanan sebelum fajar tiba. Berperang melawan kantuk, dinginnya pelabuhan, dan rasa takut. Nyawa pun taruhannya.
***
          Lelaki si baju hitam polos dan si kerah merah tak bisa berbuat apa-apa selain mendelik. Matilah riwayat mereka. Sangat kecil peluang untuk lolos bagi mereka malam itu. Mereka terus berharap supaya datang satu keajaiban. Mereka belum siap mati mengingat betapa banyak dosa yang telah dibuat.
          “Sial! Ini semua salahmu Prom! Kalau saja kemarin kau tak melakukan hal memalukan itu kita tak akan di sini sekarang! Dasar payah!”
          “Kenapa menyalahkan aku Jid? Siapa suruh pula kamu memaksa dan mengancamku ketika di bar?”
          “OH, SHITTT!”
          “Janganlah termakan emosi terus lah! Sekarang kita harus cari jalan keluar. Kamu kan pengusaha Jidial, pastilah otakmu sudah terbiasa memikirkan strategi, tak sepertiku anak olahraga yang otaknya tumpul,” ucap Prominensa si baju polos hitam.
          Jidial mendiam. Dia berusaha mencari strategi terbaik untuk keluar dari permasalahan. Ia terus mengetuk-ketukkan tangannya di kepala supaya otaknya segera menemukan jalan keluar. Nafasnya tak karuan. Sorotan matanya menajam. Kakinya gemetaran.
          Prominensa hanya bisa memandang langit. Baginya sekarang hanya langitlah sumber energinya. Langit selalu mengingatkan ia tentang rasa kasih sayang dan kisah cinta pertamanya dengan seorang gadis desa Bengkulu. Perempuan itu pasti sedang tidur terlelap sekarang, pikirnya. “Semoga mimpi indah yaa. Cukup aku saja yang bermimpi buruk sekarang, kamu jangan. Aku tidak mau kamu sedih lagi akibat mimpi buruk kemarin.” Bertepatan Prominensa usai berucap satu bintang jatuh dari langit. Kini energinya sudah full seratus persen.
          “Prom, aku punya ide cemerlang!” Ucap Jidial lirih.

***

          Pagi-pagi sekali seperti biasa selesai mandi aku beli tiga bungkus nasi di Mak Nik. Tentu saja nasinya bukan untukku semua, aku tak serakus itu. Dua bungkus nasi itu untuk kedua adikku, Magenta si putri malu dan Shaquille si tampan boi. Menjadi anak sulung memang kadang ribet, harus jadi yang paling dewasa dan selalu menjadi panutan untuk adik-adik yang unju-unju. Mau tak mau harus mengalah, dan entah mengapa selalu yang disalahkan setiap adik menangis padahal yang salah jelas-jelas si adik. Menyebalkan! Kalau sudah begitu lebih baik aku keluar rumah sambil menghantam pintu dan menemui teman sebayaku. Dan seperti biasa setelah makan aku duduk di depan warung Mak Nik yang kebetulan tepat di bawah pohon beringin untuk menunggu mobil jemputan. Bukan mobil jemputan dari si doi. Tapi mobil jemputan pak sopir untuk murid-murid Smansaba.
          Rumahku termasuk kategori jauh dari sekolah, sekitar setengah jam waktu yang perlu ditempuh untuk sampai. Seandainya sudah punya SIM pastilah aku memilih membawa motor sendiri. Lebih enak dan efektif. Tak seperti naik mobil jemputan yang harus saling tunggu-menunggu. Bila satu anak telat maka semuanya ikut jadi telat. Sudah begitu ketidakadilan kadang terjadi. Ketika muatan mobil sudah sesak, salah satu harus dikorbankan.  Payahnya aku pernah mengalami itu, dan diskriminasi tetap mendominasi. Pembelaan tentu diberikan pada teman yang dirasa disukai dan sudah akrab dengan yang lain. Tidak peduli lebih cepat siapakah yang datang. Akhirnya aku ditinggal sendiri dan harus mencari angkot yang lain yang selalu jarang datangnya. Pulang sekolah jam setengah dua, hampir maghrib baru dapat itu bukanlah hal yang mengagetkan. Ini menjadi salah satu keluh kesahku di SMA. Tapi dari situ aku belajar mengenai proses kesabaran dan kemandirian. Dan dari situlah aku paham dengan sebuah ayat bahwa janganlah berharap pada manusia, berharaplah hanya kepada Allah.

***

          Sesampainya di depan kelas aku melangkahkan kedua kakiku menuju bangku paling belakang. Hasna selalu datang lebih awal dariku. Rumahnya memang dekat, tapi seringkali kami tetap mendapat bangku belakang. Karena anak-anak sudah mengisi bangku-bangku depan dan tengah. Jangan heran, aku termasuk salah satu anak yang selalu datang paling akhir dan tidak jarang datang terlambat. Paling malu adalah ketika terlampat pada saat hari Senin. Aku harus menerobos banyak orang, dilihat banyak siswa-siswi untuk sampai di barisan kelasku pada saat upacara. Apalagi jika diketahui oleh Mas Besar, mau kutaruh di manakah muka kusutku ini? Arghhh.
          “Eh Hime, tugas laporan individumu udah selese?” Tanya Hasna.
          “Na, Na, baru aja nyampe, langsung kau tanyain tugas. Apa kata dunia?”
          “Hehehe, aku pengen liat yang bab tiga laaa, kan kamu biasanya paling cepet selesainya,”
          “Iyo iyoo, gampang lah. Tapi jawab pertanyaanku doloe! Kamu yang ngerjain aku di formulir pendaftaran kebahasan kan?” Selidikku.
          “HAH? Aniyoo,” jawabnya menggunakan bahasa Korea yang berarti tidak.
          “Wae??” Tambahnya lagi yang artinya mengapa. Aku menceritakan semuanya yang telah terjadi. Hasna mengerutkan keningnya.   
          “O mai gas! Mbak Berlian Melburnian yang paling cuantikkk di dunia. Itu emang formulirnya kek gituh, punyaku juga ada kok, punyanya anak-anak laen juga gitu. Kalo gak percaya nih liat nih,” ucap Hasna sambil menodorkan selebaran kertas formulir pendaftaran.
          “Eh gile! Sumpah gila! Gak jelas banget sih, terus maksudnya apa coba pake ada pertanyaan kek ginian. Terus kok ini punyamu masih kosong? Mau kamu jawab siapa? Mas Ardho?”  Tanyaku terkekeh.
          “Ya nggak lah! Ngawur! Meski aku seneng sama Mas Ardho, tapi aku mengakui kok kalo dia gak ganteng! Sumpah sama sekali gak ganteng, gantengnya tu kalo diliat pake sedotan dari monas,”
          “WKWKWKW! Kirain mau kamu jawab Mas Ardho, nguakak akuu… Lhah teros siapa dwongg?”
          “Emm, siapa yak. Nah itu aku bingung. Ganteng itu kan relatif sih, bisa jadi ada yang bilang kalo Mas Ardho adalah cowo ter ganss sepanjang masa, tapi mungkin orang Afrika yang bilang begitu, hahahahah!” Canda guraunya si Hasna.
          “Ya Allah jahat bangett, wkwk. Emm, aku  juga gak mau nulis Mas Besar ah entar kalo ketahuan Mas Hoshi temen sekelasnya bakalan malu bukan main diriku, ditambah nanti Mas Besar tambah gedhe kepalanya. Sudah gedhe, ditambah makin gedhe jadi apa yak nanti. Bisa jadi ultramen gendut nantii. Aha, aku nulis Mas Deco bae lahh. Gak seberapa ganteng sih, emm tapi dia manis dan keyen.”
          “Yowis lah, aku nulis Mas Ardho aja gakpapa. Buat guyonan, wkwkwkwkwkwkw. Sekalian modus nanti pas minta tanda tangannya wakakak. Eh, engga jadi denggg, sok-sokan berani bat yak aku. Aku ikutan kamu aja dah, Mas Deco. Biar nanti barengan jadinya kagak maluu hehe…”
          “Pada ngapain to nak nak kalian, ngakak sendiri aku ndengernya,” timpal Anisa yang duduk di sebelah meja kami.
          Seusai jam pertama kedua selesai, aku dan Hasna menuju ruang kebahasaan akan menumpuk formulir pendaftaran. Yang benar saja, sesampai di sana tak ada satu orang pun kakak kebahasaan. Terus mau kita berikan kepada siapakah formulir ini? Aku dan Hasna pun memilih menunggu sampai 15 menit. Jikalau sudah 15 menit pun tak muncul satu pun kakak kebahasaan kami berniat mengunjungi Mas Hoshi di kelasnya, yupz kelas 11 IPS 1. Sekalian modus, mwehehehe.
          Aku dan Hasna nggabut di ruang kebahasaan. Sampai pada akhir menit ke-15 muncul lah seorang mbak mbak jangkung dan punya sepasang lesung pipit yang amat dalam. Kami mengenal wajahnya, tapi tidak tahu siapa namanya. Dia adalah sekretaris organisasi kebahasaan tahun ini. Aku dan Hasna pun memberikan formulir kami padanya.

***
          Polisi senior Burhan dan junior Kevin terus menyusuri jalan mencari dua orang lelaki tawanan yang tertangkap CCTV telah mencuri berbagai barang narkotika dan berbagai senjata tajam dari markas Bea Cukai setengah jam yang lalu.
          “Lapor pak, saya telah menemukan jejak kedua tawanan itu di dekat tiang merah.” Lapor Fatah pada Polisi Burhan melalui Handy Talky.
          Polisi Burhan dan Kevin pun bergegas ke zona merah. Sesampai di zona merah, salah satu junior teriak, “Pak, kedua tawanan sudah behasil kabur tanpa jejak.  Serta payahnya, Fatah menjadi sasaran umpan dan korban mereka.” Kondisi Fatah yang mengenaskan membuyarkan konsentrasi Polisi Burhan. Kevin yang mengetahui konflik batin Polisi Burhan langsung mengambil alih memimpin pasukan.
Semuanya kacau! Chaos kembali terjadi setelah lima pekan yang lalu. SIALAN. Target tak tercapai, rencana tak terlaksana. Semua serba kacau di Markas BC Pelabuhan Marina. Padahal evaluasi sudah selalu dilakukan dan diingatkan. Padahal rencana dan strategi telah disusun dengan sangat rapih. Namun tetap saja kesalahan demi kesalahan terus merambah.
Polisi Burhan pun dimarahi habis-habisan oleh atasan. Terlebih para junior, mental terus diuji. Semua pasukan Polisi senior Burhan dituntut mempertanggungjawabkan masalah ini. Akan tetapi mengingat kondisi junior Fatah yang sangat tidak memprihatinkan di rumah sakit membuat Polisi Burhan goyah. Polisi Burhan pusing kepayang dibuatnya.
Polisi Burhan mencari ketenangan. Ia duduk termenung di atas kursi kayu jati yang terletak di sudut ruangan bercat hitam keabu-abuan. Ekspresi mimik wajahnya terlihat sangat suram. Kedua pergelangan tangannya mengepal menjadi satu. Terlihat sangat tenang, akan tetapi kedua bola matanya melihat ke arah mana-mana. Tampak dari matanya bahwa dia sedang di dalam keraguan dan kebingungan. Ia terus teringat tragedi yang terjadi satu tahun yang lalu. Kejadian itu terus menghantui dirinya selama ini. Dilihat dari fisiknya, tubuhnya yang sixpack, dan otot-ototnya yang kekar, ia memang terlihat sangat kokoh, kuat, temperamental. Akan tetapi, hatinya telah terluka-luka pedih, juga perih. Mentalnya telah terguncang. Apalagi setiap ia teringat akan tragedi tersebut.
Tidak ada yang tahu mengenai ini. Polisi Burhan sengaja tak mau cerita kepada siapa-siapa, walau ia tahu bahwa itu sungguh berat dan konsekuensinya ia harus menanggung seorang diri. Namun, diam-diam di balik tabir kediamannya, junior Kevin telah mengetahui rahasia itu. Bukan kesengajaan, malam itu Kevin tak sengaja melihat secara langsung kejadian itu dari balik tembok. Maka dari itu lah, Kevin selalu berusaha empati dan mencari simpati Polisi Burhan untuk membantunya secara tidak langsung.

***
















Dasar Aku

“Panospy Siterttal. (Plan Optimist Pray Spirit Effort Tawakkal)”

Hari ini sudah memasukki pekan ulangan harian. Namun, aku masih berleha-leha, bersantai-santai. Rasanya malas sekali tuk belajar. Tubuh ini serasa berat sekali untuk bangun, seberat batu seribu ton. Ehm, kurasa berat badanku pun naik beberapa kilogram. Akhir-akhir ini aku kebanyakan makan makanan berkarbo tinggi dan makanan manis-manis. Sudah kuduga tubuhku bakalan membengkak.
Kulihat kalender yang terpampang nyata di tembok kamar. Baru kusadari ternyata hari ini tanggal 31. Itu berarti umurku berkurang satu tahun. Ah, payah. Aku sudah 16 tahun sekarang, tapi aku belum melakukan apa-apa. Rutinitasku sehari-hari hanyalah makan, sekolah, pulang, tidur, makan, dan begitu terus. Sungguh tak ada warna-warni hidup. Mungkin hidupku adalah salah satu hidup yang paling membosankan di seluruh zaman.   
Aku tak boleh seperti ini terus. Ini masa mudaku, jangan sampai aku kehilangan masa mudaku dengan sia-sia tanpa faedah apa pun. Seketika itu aku teringat akan drakor-drakor bergenre school life yang mana si tokoh utamanya selalu semangat untuk menggapai cita-citanya. Aku harus produktif, tak boleh bermalas-malasan. Lalu, aku membuat kalender rencana hidupku sampai tiga tahun ke depan. Kutulis sedetail mungkin, apa saja yang harus kulakukan, dan targer-target apa saja yang harus aku capai supaya hidup ku tak berantakan serta punya tujuan yang jelas. Aku pun menulis 100 mimpi yang harus aku jadikan kenyataan, salah satunya yaitu aku harus melanjutkan sekolah di PTN favorit dan terbaik. Tentu tak semudah yang dibayangkan untuk terjaring dan diterima bersekolah di sana, cukup ketat memang persaingannya. Siapa yang tak mau menempuh pendidikan di sekolah terbaik? Yang pastinya mutu kualitasnya lebih tinggi dan berintegritas.
Setelah selesai menulis berbagai impianku di buku impianku aku mengambil handuk putih yang terdapat huruf Hangeul di kain handuk itu yang mana aku tak tau apa artinya. Aku memang suka Korea, tapi aku belum mempelajari tulisannya. Aku pun bergegas mandi supaya segar dan tambah bersemangat.
I won’t be silenced
You can’t keep me quiet
Won’t tremble when you try it
All I know is I won’t go speechless!
Cause I’ll breathe
When they try to suffocate me
Don’t you underestimate me
Cause I know that I won’t go speechless! Speechless!
“Oii, Berli! Cepetan! Jangan nyanyi teruss! Aku keburu berangkat kerja! Berliiiiiii!!!” Omku menggedor-gedor pintu kamar mandiku. Sungguh menggangguku yang sedang asik menjadi penyanyi Speechless di kamar mandi. “Iyaaaa, mass bentar lagiiii,” teriakku dari dalam kamar mandiku.
            Beberapa menit kemudian ku buka pintu kamar mandi,
            “Ommo,” aku kaget begitu melihat Om ku Kevin berdiri tepat di depanku.
            “Hhh, kaget aku, kukira siapa. Ngelihatnya biasa aja kenapa si Om,” ledekku.
            “Ngapain sih manggil om, biasanya juga gimana,”
            “Iya Mas Kevin, bercanda doangg.” Om ku ini masih muda, hanya selisih tujuh tahun denganku. Ia tak pernah mau dipanggil om sejak kecil. 
“E, Berli, kamu selesai ujian kapan?” Tanya Om Kevin tiba-tiba,
“Emm, minggu depan. Emang kenapa?” Om Kevin mengangguk-angguk, “Gakpapa, cuman nanya. Belajar yang tekun! Katanya pengen jadi astronot,” ucapnya dengan muka datar.
“HAH? Siapa yang kepengen jadi astronot, itu kan Lyra. Aku pengen jadi pengusaha aja,” bantahku.
“Ya pokoknya belajar lah yang tekun,” tambahnya.
“Iyaaaaaaaaaaaaaaa….”
Habis mandi aku jogging ke alun-alun. Maghrib ini nanti diperkirakan ada penampakan gerhana bulan. Aku sudah berjanji pada Lyra aku akan datang untuk menyaksikan bersama. Tidak lupa aku membawa rakitan teleskopku dan buku catatan untuk ulangan besok.   
Line!
From Prominensa
Berli, jadi ke alun-alun kan? O iya aku ajak temenku juga ya, bukan Andromeda. Tapi Jidial.
Dalam hati aku mengernyitkan dahi, Jidial? Siapa tuh? Kagak pernah denger nama seunik itu.  Tidak sampai 2 km aku sampai di alun-alun kota, aku mencari dimana si Lyra perempuan berambut kepang dua itu. Di sini ramai sekali tak seperti biasanya, mungkin orang-orang juga akan menyaksikan penampakan langka gerhana bulan di sini.
Ringgg Ringg Ringg
Ada telepon dari Prominensa.
“Iya, hallo Prom? Aku dah nyampe nih di alun-alun, kamu dimana?”
“Aku sama Jidial juga baru aja nyampe. Kamu sekarang posisi di mana?”
“Emm, aku ini ada di deket penjual aci, eh tapi ini aku juga lagi nyariin temenku si astronom cilik alias si Lyra…”
“Oooo, ya dah deh. Kamu stay di tempat aja dulu yak, aku susul ke sana. Tungguin kita. Abis gitu kita cari deh si Lyra bareng-bareng…”
“OK lah kalo begitu! Tapi cepet yak, ga pakek lama!” Suruhku.
  Aku pun berdiri di tempat sambil menunggu Prominensa dan kawannya Jidial. Ngomong-ngomong sedari tadi siang aku belum menyuapi sesendok pun nasi ke dalam mulutku, pantas saja dari tadi perutku terus keroncongan. Untung aku membawa uang saku, aku pun membeli beberapa ribu jajan aci. Bapak penjual aci ini terlihat sangat lelah. Air keringatnya begitu banyak membasahi baju birunya yang kumal. Beliau terlihat sangat semangat membanting tulang. Meski begitu, bibir hitamnya terus melengkung ke atas, beliau terlihat begitu ramah dengan pembeli. Sepertinya dagangannya laku banyak hari ini. Kulihat di gerobak kayunya, aci hanya tinggal beberapa butir saja. Hmm, rejeki memang tak akan ke mana…
Aku menelan butir demi butir aci yang ada di tanganku. Rasanya gurih. Kulahap semua aci-aci itu sampai habis. Meski belum begitu kenyang, tapi lumayan lah sudah bisa untuk mengganjal perutku, yang penting kan aku tidak mati kelaparan.
“Berlii, kamu ke sini kok nggak bilang-bilang sih? Tau gitu tadi barengan sama om mu yang jomblo ini…” Om Kevin tiba-tiba datang yang tak tau dari manakah asalnya.
“Apaan sih mas? Lagi-lagi bikin aku terkejoed ajah, hmmm! Ya mana aku tauu, tadi katanya Mas Kevin keburu mau kerjaa, kok malah di sini? Hayoooooo,” selidikku.
“Iya tadi Mas habis dari pelabuhan cuma bentar doang, abis gitu ke sini deh. Mas lagi kerja lapangan nih di sini, emang kek kamu yang cuma keluyurannn aja!?”
Refreshing mas… Lagian ini aku sama belajar kok, nih buktinya aku bawa buku catetan, wekkkk! Btw kamu sendirian aja kah? Terus emang kerja lapangan apaan? Kok ya di alun-alun? Bukannya harusnya di pelabuhan?”
“Iyalah sendirian cerewet! Mau sama sapa lagi? Temen-temen mas mencar. Kita lagi cari tawanan yang berhasil kabur beberapa hari yang lalu Ber, dua orang anak laki-laki. Mereka masih muda banget deh kayaknya kalo di liat dari wajahnya, emm bisa jadi seumuran kamu. Ini mas ke sini karna gak tau kenapa feeling Mas mereka ke sini malam ini buat ikutan ngelihat gerhana, intinya sih mereka masi ada di kota ini.” Jelas Om Kevin.
“Lah, kamu kok di sini sendirian aja? Mana temenmu si Lyra?” Tanyanya.
“Aku dah kencanan. Cuma dari tadi belum ketemu juga. Dia hapenya dimatiin sih, jadi aku gabisa ngehubungin dia. Oiya aku juga masih nunggu dua temanku yang lain. Eh satu dingg, satunya itu cuma temennya temenku gitu lhoo, tau kan maksudku?” Jawabku.
“….. Enggak,” jawab Om Kevin sambil tertawa. Aku menggerutu sebal dibuatnya.
“Ah, yaudah lah! Gak penting!” Celotehku.
Kulihat arloji hitamku, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore lebih dua puluh menit. Yaampun, kenapa lama sekali sih dua cowo ini!? Padahal sudah 20 menit aku menunggu mereka, sungguh terlalu! Tak lama kemudian tanpa sengaja aku melihat Lyra dari kejauhan. Ia nampak kesal kebingungan mencari-cariku. Duh jadi merasa kasihan diriku ini.
Aku pun langsung lari meninggalkan Om Kevin sendirian ke arah Lyra sambil teriak-teriak memanggil namanya.  Payahnya, sudah empat kali aku meneriakinya namun ia tak juga menoleh. Memang sangat bising di sini, terlalu banyak kaum Adam dan Hawa yang menggerombol memenuhi alun-alun kota. Aku pun berlari menerjang orang-orang itu, dan tak hanya sekali atau dua kali tubuhku bertabrakan dengan orang-orang dengan variasi bentuk tubuh itu.
BRAKKKK!
Lagi-lagi aku tertabrak dengan seseorang, namun yang terakhir ini terlampau keras sampai membuat tubuhku terjatuh dan terpental di tanah bebatuan dan berumput hijau itu. Sakit. Payahnya lagi orang itu tak menolong atau bagaimana, ia hanya melihat lalu melanjutkan langkahnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Dasar manusia tak berperikemanusiaan! Kurang ajar! Batinku menggeliak. Aku harus terus mengingat-ingat rupanya. Laki-laki berkulit putih, mengenakan kacamata, dan memakai kalung bulan sabit.
Dengan susah payah aku berusaha berdiri, menjadi manusia sok kuat sesaat. Aku meneruskan mengejar Lyra yang belum begitu jauh meninggalkanku. Sampai diriku dan diri Lyra hanya berjarak selangkah saja, aku memegang pundaknya yang tentu saja membuat Lyra menoleh ke belakang melihat diriku,
Astagfirullah, Hime! Aku kira siapa loh! Bikin jantungku dag dig dug aja…”
“Alahh alay deh!” Jawabku ketus.
“Hhh, kamu tau enggak sih aku tuh udah puter-puter keliling-keliling nyariin kamu sampe hamper satu jam tau nggak sih? Aku Cuma sendirian pula tuh… Untung lagi gak PMS jadi lebih sabar dan bisa nahan emosi, coba kalo nggak bisa jadi monster nih aku sekarang…”
“Ye maap atuh, Lyra kuuuuuu. Tadi tuh ceritanya aku nyari kamu enggak nemu-nemu, terus kamu aku hubungin juga gabisa, sampe mau putus asa aja rasanya. Abis gitu yadah deh aku nungguin si Prominensa dulu, tapi entahlah dia gak datang-dateng juga, kan PHP, huh.”
“Hah, Prominensa? Dia lagi di sini juga? Demi apa? Bukannya dia tinggal di Bengkulu kok bisa sampe di Jawa? Sejak kapan?”
“Oi! Yang rumahnya di Bengkulu tuh Andromeda, bukan Prom. Si Prom mah rumahnya di Jawa juga, deket kok sama kota kita.”
“Oww, kok mereka bisa kenal gimana ceritanya? Lagian bukannya mereka dah sahabatan sampe lengket banget sejak lama yah?”
“Iya, emm kagak tau juga sih. Pokoknya si yagituuu,”
“Yahoodieee,” gurau Lyra.
“Eh, astagfirullah! Sikumu kenapa? Darahmu banyak banget gelaa!” Tanya Lyra kaget.

“Eh, gils! Aku baru sadar kalo sikuku berdarah…” Akhirnya aku menceritakan semuanya yang telah terjadi pada sahabatku Lyra sampai mendetail.

***

Sehabis selesai berkomunikasi sekunder via telepon dengan Berlian. Prominensa dan Jidial pergi menuju tukang penjual jajan aci, yang setahunya memang hanya ada satu orang saja penjual aci selama ini di alun-alun kota ini. Seingatnya gerobak penjual aci ini berwarna biru garis-garis putih dengan sedikit noda cokelat menempel mengotori gerobak aci tersebut.
Selang lima menit mencari, Jidial menemukan si tukang penjual aci itu ada di sudut paling depan alun-alun. Yah jauh lah dengan posisi mereka berdua sekarang. Tanpa tergesa-gesa mereka berjalan menuju gerobak itu hendak menemui Berlian yang sudah menunggu mereka. Prominensa dan Jidial dengan santainya berjalan sambil menikmati suasana ramainya alun-alun yang penuh sesak dipenuhi dengan manusia yang sudah tak sabar ingin melihat peristiwa langka gerhana bulan yang mungkin hanya terjadi beberapa kali saja tiap lamanya waktu.
“Jidial, kau tunggu aku di sini sebentar. Aku akan membeli beberapa baso ikan buat kita ngemil,” kata Prominensa pada kawannya. Jidial mengangguk dengan muka masam. Ia paling malas dan benci dengan yang namanya menunggu. Apalagi menunggu something yang tanpa adanya kepastian yang jelas. Sungguh ia sangat membenci itu. Muak sekali rasanya baginya untuk menunggu. Ia memang pribadi yang sangat tidak sabaran. Namun, demi makanan tak apalah rasanya untuk mengisi perutnya yang sudah tak lagi buncit.      
Kesalnya, si Prominensa tak kunjung-kunjung kembali. Memang sangat lemot pria itu, mengalahkan lemotnya keong dan bekicot berjalan. Sepertinya banyak pembeli yang menyerbu baso ikan, sehingga Prominensa harus mengantri panjang. Bahkan sampai mau 15 menit pun si Prominensa yang kurus itu belum juga mengirim sinyal akan datang.
Rasa kesabaran Jidial pun habis sudah, ia bernekat menjemput Prominensa, “Prom, masih lama gak?” Tanyanya. “Enggak-enggak, santuy…” Jawab Prominensa, padahal dia baru sampai di antrian nomor 5. Jidial menghembuskan nafas, menahan emosinya yang hampir-hampir saja akan meledak bagai bom atom.
Beruntungnya pak penjual baso ikan peka, beliau mempercepat lagi sekuat tenaga melayani pembeli. Selang beberapa menit kemudian kedua lelaki muda itu pun melanjutkan perjalanan menuju depan penjual aci. Belum sampai di sana, berjarak delapan langkah kiranya mereka dikagetkan dengan adanya sosok yang mengejar-ngejar mereka beberapa hari silam.
“Buset Jid, kok Berlian sama anak BC sih? Katanya sih tadi cuma sama temennya cewe berkepang itu…”
“Bodoamat lah, kita harus segera lari dari sini. Ini darurat,”
“Eh tapiiii…. Gi gimana de dengan Ber-“ tanya Prominensa dengan terbata-bata.
“Itu urusan besok! Yokk, sampai hitungan ketiga kita harus meninggalkan tempat ini dengan sangat hati-hati, ingat sangat hati-hati! Gakusah kemrungsung!”
“Satu, dua, tigaaa-“ mereka berdua lari meninggalkan alun-alun dengan pura-pura seperti tak ada apa-apa. Kali itu, mereka selamat.

***

            Berlian dan Lyra sudah berada di depan gerobak penjual aci lagi bersama Om Kevin. Luka Berlian sudah ditangani dengan cekatan oleh Om Kevin yang mantan PMR ketika sekolah atas. Katanya hari itu cukup dibersihkan dan diberi hansaplast saja, besok baru di bawa ke dokter untuk dijahit. Siapa tahu juga ternyata ada luka dalam.
            Berulang kali Berlian mencoba menelepon, menghubungi Prominensa. Namun, belum ada juga respon. Sehingga gagal terjadi komunikasi antarkeduanya. “Berlian jangan cemberut gitu dongs!” Lyra mencoba menghibur. “Mungkin dua cowo temenmu itu gak jadi ke sini karna ada problem mendadak dan gak sempet buat ngabarin kamu. Terkadang laki-laki itu emang kek gitu ngeselin, tapi pasti ada alasan dibalik semua itu.” Tambah Om Kevin sok puitis.
           
***





  





         







Sekilas tentang Adikku

“Waktu adalah emas. Jangan pernah menyepelekan menghabiskan waktu bersama keluarga ataupun orang terdekat, karna itu adalah waktu yang sungguh berharga sekaligus bermakna.”

            Hari ini adalah weekend. Aku pun mengajak kedua adikku pergi ke pasar malam. Awalnya kami tak mendapat ijin dari orangtua kami yang super protektif pada anaknya, apalagi bila berhubungan dengan keluar rumah atau maen. Untungnya saja Om Kevin membela kami dan akhirnya ikut mengantarkan kami ke pasar malam.
            Aku sadar aku belum bisa dikatakan sebagai seorang kakak yang baik sekarang. Aku masih banyak salahnya, dan terkadang tidak mau mengalah. Namun, dari dalam hatiku yang paling dalam sesungguhnya aku sangatlah menyayangi kedua adikku, Magenta dan Shaquille. Tanpa aku sadari, mungkin hidupku sangat sepi apabila tidak ada mereka. Pada intinya, sebenarnya punya saudara kandung itu menyenangkan. Kami bisa berbagi akan banyak hal, yah meskipun tidak jarang pertengkaran juga terjadi. Tapi kan itu merupakan hal yang sangat wajar bukan? Aku yakin saudara kandung di seluruh dunia pun pasti juga mengalami hal yang sama. Mereka pasti pernah berkonflik satu sama lain, meskipun hanya sekali seumur hidup. Namanya juga hidup, bukan hidup namanya kalau tidak ada konflik atau masalah. Justru dengan adanya masalah kita akan berubah menjadi lebih dewasa dan hidup menjadi lebih bermakna.
            Dari sini aku banyak belajar. Belajar tentang bagaimana cara menjadi kakak yang baik, belajar menjadi suri tauladan atau contoh yang baik bagi adik-adiknya, belajar mengenai berbagi dalam segala hal. Entah itu makanan, mainan, barang, baju, sampai kasih sayang. Yah, jujur saja bisa dibilang mereka lah yang mendewasakanku. Aku tidak boleh terus-terusan menjadi Berlian yang manja dan tak bisa apa-apa. Aku tak mau dianggap remeh. Aku sangat benci sekali pada itu.
            Terutama Magenta, kadang kala aku merasu malu olehnya. Dia mungkin memang pendiam, akan tetapi dia memiliki beberapa kaunggulan yang mana aku tidak memilikinya. Aku rasa dia sangat paham agama, bahkan melebihiku padahal usia kami selisih lima tahun. Bacaan Al-Quraannya saja lebih fasih dariku, hapalan suratnya juga lebih banyak dibandingkan hapalanku. Dia juga sangat tertib ngaji dan sholatnya. Entah dari mana asal semangatnya, tapi dia begitu bersemangat tentang urusan ibadah. Pasti Allah sangat sangat menyayanginya. Aku yakin.
            Begitu pun Shaquille, si bungsu lelaki yang ganteng. Dia masih balita dan sangat kawaii. Kelucuan dan keimutannya selalu menjadi penghibur keluargaku. Walau dia sangat suka mengompol dan berak di celana... Sabar sabar dan sabar. Aku tidak boleh menggerutu jika tiap kali disuruh mencebokinya.
            “Berlian, Magenta, Shaquille, ayo cepat naik mobil! Kita ke pasar malam, kuy!” Seru Om Kevin. “Asyiapppp!!!” Ucap kami bertiga serentak. Akhirnya kami ke pasar malam, malam minggu ini horee. Akhirnya malmingku tidak gabut dan enggak cuma tiduran di pulau kapuk saja seperti biasanya hahaha.
            Sesampai di pasar malam, kami membeli arum manis kesukaan Magenta dan Shaquille. “Hemmm, lezatt,” kata Shaquille dengan pipinya yang begitu menggemaskan. Kita melanjutkan menaiki beberapa wahana. Dari dulu aku ingin sekali naik kuda putar. Namun sayangnya sekarang sudah tidak bisa, sebab aku sudah masuk kategori dewasa bukan anak-anak lagi. Jadi, aku hanya menunggui dua adikku yang kegirangan naik kuda putar. Kulihat Om Kevin yang ikut tersenyum melihat ekspresi Magenta dan Shaquille.
            “Mas Kevin, tau enggak? Kalo kita cuma berdua kek gini tuh kita dikira orang lagi pacaran tauk hahaha,” candaku garing. Bibir mas Kevin tersenyum ke samping.
            “Kamu tu kalo jomblo ya jangan ngenes-ngenes gitu po o?” Kata Om Kevin meledekku.
            “Nih ya, daripada nggabut gakjelas kek gitu mendingan bantuin mas nyariin dua lelaki itu...”
            “WHATTTT??? Sampe sekarang tuh mereka belom ketemu juga? Omeygatt demi apa?” Om Kevin mengangguk.
            “Sebenernya siapa sih mereka itu? Kok aku jadi ikutan kepo. Siapa sih mereka? Kayak gimana ciri-cirinya? Jangan bilang ternyata mereka adalah temanku atau seseorang yang aku kenal...” Tanyaku.
            “Bisa jadi bisa jadi, soalnya mereka kan seumuran sama kamu. Gak menutup kemungkinan juga kalo mereka tuh temen satu sekolahmu. Pokoknya yang satu itu anaknya kurus, item, rambutnya agak ikal. Sedangkan satunya pake kacamata, berkulit putih, dan pake kalung bulan sabit.” Jelas Om Kevin.
            “Wait, gimana? Pake kalung bulan sabit? Seriusan mas?”
            “Iyaa, why?”
            “Kelihatannya familiar, kayaknya aku ngerti deh. Bentar-bentar coba aku inget doloe,” kataku. Aku berusaha mengingat-ingat tentang lelaki berkalung bulan sabit. Aku memiliki feeling yang kuat aku pernah menemuinya. Tapi dimanakah gerangan? Ingatanku memudar. Aish, kenapa aku jadi pikun begini. Padahal umurku masih 16 tahun. Akhir-akhir ini aku memang merasa mudah lupa entah kenapa. Apa mungkin karena selama ini aku keseringan lahan? Mengerjakan kegiatan-kegiatan yang tidak manfaat dan menimbulkan dosa-dosa yang amat banyak sehingga daya ingatku menurun drastis? Hem, entahlah.
            Satu jam berlalu sudah, jarum jam arloji hitamku menunjukkan pukul sembilan malam sekarang. Huaah! Aku menguap. Sialan, yang benar saja jam segini aku sudah mengantuk. Padahal adik-adikku masih sibuk dengan wahana-wahana pasar malam yang ramai. Hufft, sepertinya aku harus membeli beberapa cemilan untuk mengobati rasa kantukku yang memerangiku sedari tadi...
            “Mas Kevin, Mas Kevin, aku ngantuk banget nich. Pengen beli sesuatu, emm tapi apa yak? Aku bingung nich...” Kataku pada Om Kevin.
            “Alay lu Ber! Ya terserah dah mau beli apaan. Tapi aku ga bisa nganter, aku njagain edekmuu. Eh, Berli aku nitip beliin Bakwan Malang sekalian dongs!” Suruh Om Kevin.
            “Gamau! Udah gedhe harus mandiri!” Aku melarikan diri secepat kilat.
            “Wooo, rese lu Ber!” Teriak Om Kevin dari kejauhan.
            Aku memutar-mutari pasar malam yang sungguh ramai, berniat mencari jajanan takoyaki. Habisnya dari kemarin aku ngidam takoyaki karena menonton video mukbang takoyaki di youtube. Sumpah si gila! Udah larut malam tapi nih pasar masih anget banget ramenya. Ngalahin keramaian di pasar siang. Ya gimana ya, sebenernya mah aku ogah banget jalan sendirian di tengah keramaian pasar malam kaya gini. Tapi ya mau gimana lagi? Nasib.
            Sampai pada akhirnya, duarr duarr duarr. Kembang api mengagetkan seisi pasar malam. Kembang api yang begitu elok menghiasi langit malam berhasil menyihir mata para manusia di pasar malam kala itu. Dalam sekejap semua orang mematung dan tertegun menyaksikan keindahan langit malam. Cantik sekali memang. Harus kuakui.
            “Cantik ya? Tapi sayang langitnya jadi tercemar, kasihan makhluk luar angkasa-“ seorang laki-laki bertopi putih tiba-tiba muncul tepat di samping kananku.
            “Astagfirullah, Andromeda!” Aku terkejut bukan main.
            “Di saat makhluk bumi bahagia dibuatnya, akan tetapi makhluk luar angkasa sebaliknya. Aku si ga terima bintang-bintang di jagad raya menjadi terganggu hanya karena letusan kembang api yang kata manusia sangat menarik itu...” Andromeda tersenyum.
            “Androm, dari dulu kamu ga berubah ya? Selalu tersenyum bagaimana pun keadaanya.” Akhirnya kami melanjutkan pembicaraan kami di sebuah stand kopi Melbourne.
            “Kamu apa kabar Berlian? Sudah lama tidak berjumpa.” Tanyanya.
            “Aku alhamdulillah. Uhm, cuman ada something important yang harus segera diselesaikan saat ini.”
            “Ohya? Kalau boleh tahu apa itu? Siapa tau aku bisa bantu.”
            “Bukan masalahku si sebenernya, lebih tepatnya aku harus membantu om ku terkait masalah di pekerjaannya. Ini tentang pencarian dua pemuda yang telah mencuri barang terlarang dari kantor Bea Cukai tempat om ku bekerja.”
            “Waw, sepertinya ini bukan masalah biasa. Harus segera ditangani. Memangnya kedua pemuda itu bagaimana cirinya?” Aku menjelaskan semuanya sampai detail kepada Adromeda yang mana aku sangat percaya kepadanya.

***

            Aku kembali ke tempat semula, dengan membawa Bakwan Malang dan beberapa jajan yang lain. Aku minta maaf kepada om ku karena sedikit lama perginya. Kulihat Magenta dan Shaquille nampak sangat puas malam ini. Aku sangat lega melihatnya. Kami pun menuju mobil hendak pulang ke rumah, surga dunia. Di sepanjang perjalanan Magenta bercerita bahwa ia sangat senang ketika melihat kembang api tadi di pasar malam. Itu merupakan kembang api pertamanya selama ini. Sebelumnya dia belum pernah melihat secara langsung. Maka dari itu, ia merasa malam ini adalah hadiah terbaik untuknya. Ia merasa bahwa malam ini merupakan malam yang paling sempurna baginya. Aku terharu mendengarnya. Untung saja tadi Om Kevin membela kami sehingga diijinkan pergi ke pasar malam oleh ayah dan mamah. Kebetulan sekali malam ini memang malam terakhir pasar malam tersebut. Jadinya kami tidak kecewa.
            Beberapa saat kemudian kulihat  lagi kedua adik kesayanganku, mereka ternyata sudah tidur terlelap di atas dudukan mobil. Mereka terlihat kecapaian, terlalu capai karena senang. Bahkan mereka tidurnya saja sambil tersenyum. Sungguh manis!
            Sesampai di surga dunia, alias rumah kami aku dan Magenta menuju kamar kita berdua. Kita memang sekamar dari awal. Aku di ranjang atas dan Magenta ranjang bawah karna takut akan ketinggian. Berbeda denganku yang suka ketinggian, hehehe. Kamar ini kami desain bertemakan luar angkasa. Jadi, tiap kali tertidur kedua mataku tertuju pada langit-langit kamar yang berlukiskan bintang-bintang luar angkasa. Mungkin sebab itu pula aku lebih sering mimpi indah dan tidur nyenyak daripada tidak.
            Seperti biasa, sebelum aku naik tangga menuju ranjang atas aku membisikki telinga Magenta yang sudah tidur pulas dengan kalimat-kalimat positif, “Magenta adikku, kamu adalah gadis yang pemberani, cantik, dan cerdas! Aku tahu itu, kamu memiliki sejuta kekuatan yang tak ada bandingannya! Selamat tidur. Aku menyayangimu, dik.” Sudah dua tahun ini aku menerapkan hal itu pada Magenta. Aku memiliki ketertarikan pada ilmu psikologi. Dua tahun yang lalu aku pernah membaca buku di Perpustakaan Kota bahwa hipnoterapi itu sangat penting dilakukan dan sangat dahsyat akibatnya. Aku paham Magenta sangat butuh dorongan yang lebih, maka dari itu aku melakukan ini padanya tiap malam ketika dia sudah tertidur dengan harapan paginya dia berubah menjadi gadis yang lebih riang dan berani.
            Aku percaya dengan sistem kerja hipnoterapi ini, dengan begitu secara tidak sadar aku mengirim sinyal positif pada alam bawah sadarnya sehingga otaknya merespon positif dan membuat dirinya bergerak seperti apa yang kukatakan. Dan memang benar adanya, setelah dua tahun ini terdapat perubahan yang signifikan. Dibandingkan dua tahun yang lalu, Magenta sudah berubah menjadi sosok gadis yang lebih berani, ekspresif, dan percaya diri.
            Aku memanjat tangga ranjang tingkat kami. Aku rebahan di atas kasur empuk penuh kapuk. Sambil memandangi langit-langit berhiaskan lukisan galaksi, aku menyetel radio miniku, menyetel murottal ayat suci A-Quran. Aku sudah terbiasa sejak kecil sebelum tidur mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran, kalau tidak maka aku tidak akan bisa tidur, dan itu pasti. Entah mengapa, aku merasa bunyi murottal ayat itu sangat menenangkan hati pendengarnya, mengurangi tingkat stres, dan membuat orang yang mendengarnya damai sampai terkantuk dan berakhir tidur. Berbeda dengan musik, meskipun sebenarnya aku ini juga lumayan suka menyanyi, namun bagiku murottal ayat itu tetap berbeda dan tak ada tandingannya. Aku memang suka mendengarkan musik, apalagi musik pop. Terlebih aku juga bergabung dengan tim inti paduan suara di sekolahku, aku terpilih karena katanya aku memiliki suara alto yang indah dan merdu. Bukannya sombong, tapi memang benar begitu adanya. Kau tahu mengapa? Rahasianya adalah setiap bakda sholat wajib lima waktu di penghujung doaku aku selalu menyempatkan berdoa kepada Allah meminta supaya diberikan suara yang sangat merdu seperti suaranya Nabi Dawud. Berdasarkan riwayat dalil, memang menerangkan bahwa manusia pemilik suara terindah dan termerdu sedunia adalah Nabi Dawud. Mungkin Allah mengabulkan doaku tersebut, hehe.
           

























           







Hari ini adalah hari ke 77-ku di sekolah putih abu-abu. Sepertinya semuanya nampak baik-baik saja. Seperti biasa kelas 7A

project novel 1

Magenta yang Terpaksa “Apa yang kita lihat belum tentu seperti apa yang kita lihat. Apa yang kita pikirkan belum pasti seperti apa ...